Blog Birojodoh Kristen
Blog ini bertujuan menjadi tempat untuk untuk sharing, berbagi artikel dan dapat menjadi berkat bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang sedang mencari pasangan hidup.
Dalam memulai sesuatu di perlukan untuk membangun kepercayaan diri, dalam membangun kepercayaan diri jangan sekali-kali membuat alasan. Hal itu mungkin sangat menyenangkan dan menentramkan hati, tetapi alasan-alasan tersebut hanya akan menghambat seseorang dari melakukan sesuatu.
Maka saya menyarankan bila ingin lakukan sesuatu, maka segera bertindak, lakukan yang ingin dilakukan, baik yang dilakukan berhasil atau tidak, itu akan menjadi pengalaman tersendiri buat kita. bila berhasil kita akan mendapat pengalaman yang menyenangkan. Bila gagal hal itu akan menjadi pengalaman yang akan menjadi pelajaran buat kita untuk diperbaiki.
Kita juga perlu membangun pemikiran positif tentang apa yang akan kita lakukan, Hal yang positif itu harus memungkinkan kesan positif pada diri Anda dan peningkatannya, serta pemikiran positif itu harus mengarah ke hal yang ingin anda lakukan.
Sering kita bertanya pada diri kita sendiri:
Kenapa kita harus mengalami kesulitan sementara orang lain bisa senang
Kenapa kita harus bekerja keras sampai harus lembur sementara orang lain sudah pulang ke rumah
Kenapa kita selalu menjadi karyawan sementara orang lain bisa jadi usahawan sukses
Kenapa kita harus berhujan-hujan naik angkutan umum sementara orang lain merasa nyaman di kendaraan pribadinya
Tapi pernahkah kita bertanya:
Adakah orang lain yang lebih susah daripada kita malah tidak pernah tahu apa yg namanya senang
Adakah orang lain yang tidak punya pekerjaan sampai sekali sampai rela bekerja apapun
Adakah orang yang bahkan untuk naik angkutan umum saja tidak mampu bayar
Kenapa kita selalu melihat ke atas, dan tidak pernah melihat ke bawah?
Kenapa saat kita susah kita menyalahkan Tuhan, tetapi kepada saat senang kita lupa pada Tuhan?
Kenapa kita selalu komplain, tapi tidak pernah bersyukur?
Jawabannya tidak ada di buku mana pun, tidak ada di siapa pun, tapi di hati kita sendiri… bersyukurlah selagi kau mampu untuk bersyukur….
sebelum segalanya terlambat dan diambil darimu.
Sumber : Cetivasi
Oleh Phyllis DeMarco
(Sebuah pengalaman hidup)Setelah dua tahun mengalami kegagalan kehamilan dan hasil diagnosis yang meragukan bahwa bisa hamil dengan normal, saya dan suami memutuskan untuk mengadopsi seorang bayi. Karena dikelilingi oleh keluarga yang punya banyak anak, kami menyadari bahwa tidak ada masalah bagaimana kami bisa mendapatkan anak di dunia ini - apakah melahirkan sendiri atau adopsi. Kami hanya tahu bahwa hidup kami tidak akan lengkap tanpa kelahiran seorang anak, dimana kami bisa berbagi kasih.
Setelah keputusan dibuat, kami menghubungi beberapa agen adopsi untuk mendapat bantuan. Akan tetapi setelah sekian lama tidak ada hasil yang memuaskan. Kami yakin dalam hati bahwa satu-satunya cara adopsi yang bisa kami lakukan adalah melalui adopsi secara independen.
Kami kemudian membayar pengacara khusus untuk adopsi, dan mengikuti sarannya untuk memasang iklan di semua koran negara bagian. Kami memasang jalur telpon tersendiri dengan mesin penjawab. Awalnya kami tidak mendapat hasil memuaskan, tetapi setelah beberapa minggu secara tetap memasang iklan di koran, kami mulai menerima banyak telpon.
Pengacara kami memberikan daftar pertanyaan yang bisa kami ajukan dengan sopan. Daftar pertanyaan itu sangat bermanfaat saat saya menjawab telpon yang mulai masuk - yang membuat saya acapkali gugup sampai lupa mengingat nama sendiri. Setelah beberapa bulan menjawab beragam panggilan telpon, akhirnya saya berbicara dengan Julia.
Julia hamil empat bulan, tidak menikah, muda dan miskin. Dia mengundang kami ke rumahnya di kota sebelah, dan kami senang menerima undangan itu. Ketika saya berjalan di beranda rumahnya yang reyot, saya menarik nafas panjang dan berpikir bahwa seluruh masa depan saya akan bergantung pada pertemuan ini.
Ketika Julia membuka pintu saya dibuat tercengang olehnya. Rambutnya yang panjang dan pirang sebagian menutupi wajah, mata biru berkilau penuh rasa ingin tahu, dan saya bisa melihat perutnya yang sedikit besar. Kami bertemu ibu dan neneknya. Wanita dari tiga generasi itu terus menerus menanyai tentang keyakinan dan prinsip hidup kami. Saya berdoa dalam hati supaya kami bisa memperoleh kepercayaan mereka.
Setelah tiga jam yang melelahkan berlalu, kami berpelukan di depan pintu sebelum kami berpisah. Sepanjang perjalanan pulang saya sangat senang dan tak hentinya berbicara. “Apakah kamu melihat hidungnya yang kecil?” saya bertanya ke suami. Suami saya tertawa mendengar pertanyaan itu, karena memang hidung kami agak lebih besar, bahkan tulang hidung kami terlihat sangat menonjol.
Setelah beberapa bulan, dengan dibantu oleh pengacara kami, kami membantu membiayai biaya pemeriksaan dan perawatan kehamilan Julia. Kami membayar semua biaya pemeriksaan dokter dan membelikan baju-baju hamil untuk Julia. Setiap malam saya secara rutin berbicara panjang lebar dengan Julia untuk menanyakan keadaannya dan bayinya serta menanyakan semua hal yang dibutuhkan supaya segera bisa kami persiapkan.
Semakin hari saya merasakan bahwa Julia lebih dari saudara sendiri, dan ada ikatan yang sangat kuat diantara kami berdua. Hal itulah yang membuat saya sangat syok dan tidak bisa percaya, ketika pada usia kehamilan yang ke delapan bulan Julia memutuskan untuk merawat bayinya sendiri dan menolak diadopsi.
Memang dari awal pengacara kami sudah menyampaikan kemungkinan itu bisa terjadi, dan secara hukum kami tidak berhak menuntut - tetapi bagaimanapun juga penolakan untuk adopsi itu membuat saya sangat terguncang, setelah selama tiga empat mengikuti perkembangan kehamilan Julia dengan doa dan pengharapan yang besar. Saya bahkan merasakan mulas di dalam kandungan saya, seolah-olah saya kehilangan bayi yang sudah saya kandung sendiri selama delapan bulan.
Saya terbaring lemah selama tiga hari, tidak bisa bangun dan terus-menerus dalam air mata kesedihan. Saya tidak mampu berbicara pada siapa pun kecuali keluhan yang dalam pada suami. Saya sangat berduka, melebihi semua pengharapan yang sudah saya bangun selama ini.
Suami saya dengan sabar berusaha memulihkan semangat saya, dan atas dorongan pengacara saya, kami mulai kembali memasang iklan di koran. Beberapa bulan berlalu dan nampaknya harapan untuk berhasil sangat kecil.
Dua minggu setelah Natal saat pengacara kami menelpon, apakah kami bisa menemuinya di kantor karena ada seorang wanita datang. Dua minggu sebelumnya dia baru saja melahirkan. Nama wanita itu Aurea, dari Philipina, tidak menikah, datang dengan ditemani keluarga temannya.
Dia ingin pulang kembali ke Philipina, tetapi dia tidak bisa membawa bayinya ikut. Bayinya akan ditolak negaranya karena dia tidak menikah, dan lebih dari itu dia merasa tidak sanggup merawat bayinya di sana. Sebelumnya dia sudah pernah memenuhi panggilan iklan adopsi di koran. Tetapi pasangan yang dihadapi adalah keluarga Yahudi ortodoks yang tidak bisa menerima bayi orang Philipina.
Selanjutnya dia berkonsultasi dengan pengacara saya, dan disampaikan bahwa menurut hukum saya bisa menerima bayi Aurea. Selama dua jam, saya dan suami berbincang-bincang secara mendalam dengan Aurea yang manis dan bayi laki-lakinya yang lucu. Saat bayi itu saya gendong dan melihat mata saya, dia tersenyum polos dan itu sangat menyentuh hati saya. Ada suatu ikatan hati yang langsung terpaut dan saya jatuh hati padanya. Saya menciumnya dan kedua tangan kecilnya memeluk wajah saya.
Kami tinggal di kantor pengacara satu jam lagi, karena saya tidak bisa buru-buru meninggalkan buah hati saya itu. Aurea akhirnya menyetujui untuk menyerahkan bayinya saya adopsi. Dia hanya membutuhkan waktu beberapa hari untuk mengucapkan selamat tinggal padanya.
Hari-hari penantian berikutnya saya berada dalam mimpi buruk, karena dibayang-bayangi oleh kegagalan yang menyakitkan dengan Julia. Hal yang lain adalah kami bergumul dengan hati dan perasaan bahwa saya akan membesarkan seorang anak dari bangsa lain - dan itu sama sekali di luar pemikiran kami sebelumnya. Kami tidak ada masalah dengan kamampuan untuk merawat dan mencintainya, tapi kami tidak terlalu bodoh untuk berpendapat bahwa membesarkan seorang anak dari bangsa lain itu hal yang mudah. Tetapi saya dan suami memiliki sebuah keyakinan yang sama yaitu, “Cinta akan mengalahkan segalanya.”
Dalam minggu yang sama, kami mendapat kabar dari pengacara kami bahwa Aurea berubah pikiran. Ini bukan karena kami berbeda bangsa, tetapi dia merasa berat untuk bisa berpisah dengan bayi laki-lakinya. Kami tidak bisa menyalahkan Aurea, dan berdasarkan pengalaman kami sebelumnya, kami tidak lagi merasa marah atau sakit hati. Kami sekarang sudah bisa memahami semua kondisi itu.
Tetapi di akhir minggu kami menerima berita yang lain lagi. Aurea menghubungi pengacara kami, supaya kami segera menemuinya di apartemennya. Hari itu salju turun lebat dengan udara yang membekukan tulang, bahkan ramalan cuaca mengatakan badai salju akan datang. Tetapi hari itu tidak ada sesuatu pun yang bisa menghalangi kami,
Saat kami bertiga tiba, Aurea sudah mendadani bayi laki-lakinya dengan baju yang terbaik. Dia memberikan sebuah tas plastik pada suami saya, berisi perlengkapan bayi yang digunakan selama tiga minggu itu. Aurea menyerahkan bayi itu ke dalam tangan saya, memeluk dan berbisik dengan suara tersendat ke telinga saya, “Tolong rawat dia baik-baik.” “Jangan kuatir,” saya balas berbisik. Aurea berlari ke dapur dan menumpahkan segala kesedihan hatinya dengan menangis tersedu-sedu di sana. Pengacara kami memberi tanda supaya kami meninggalkan apartemen itu, dan dia berkata akan mengurus segalanya.
Saya bergegas ke mobil karena tidak tahan dengan suasana kepedihan di apartemen itu. Sepanjang perjalanan saya melihat air mata suami saya mengalir membasahi pipinya, dan kami tidak berkata sepatah kata pun. Ada perasaan campur aduk yang tidak bisa dilukiskan, perasaan sukacita karena akhirnya pengharapan kami terkabulkan dan duka yang dalam melihat seorang ibu muda yang harus berpisah dengan anak yang telah dikandungnya selama sembilan bulan.
Saat sampai di rumah hati kami diliputi oleh kasih melihat bayi laki-laki mungil tersenyum manis di pelukan, mengobati rasa sedih dari penderitaan Aurea. Kami tidak pernah mengganti nama awal anak kami yang sudah diberikan oleh ibunya. Kami merasa bahwa itu adalah hadiah terbaik yang bisa kami berikan padanya maupun untuk Aurea.
Dia sekarang berusia dua belas tahun. Pengorbanan dan kasih Aurea selalu ada dalam hati dan jiwa kami setiap hari.
Oleh Thomas F. Crum
(Sebuah pengalaman hidup)
Sore saya melakukan presentasi dalam sebuah konferensi di Washington DC. Dan seperti sebuah takdir, saya bertemu dengan Bucky Fuller sahabat saya, memimpin sebuah presentasi di ruang konferensi yang lain di hotel yang sama.
Setelah presentasi selesai, saya menuju ke ballroom untuk mendengarkan ceramah Bucky. Saya dari dulu kagum dengan Bucky yang bertubuh kecil dalam usia delapan puluhan – jauh di atas saya, tetapi pikirannya masih jernih, sangat bijaksana dan penuh semangat. Saat konferensi usai, kami berjalan bersama menuju ke parkir di lantai dasar tempat mobil limousine bandara menunggunya.
“Saya harus ke kota New York malam ini untuk mengadakan presentasi yang lain,” katanya sambil menatap saya dengan gelisah, tidak seperti biasanya.
“Kamu tahu Annie sedang sakit dan saya sangat kuatir.”
Kami berpelukan.
Bucky Fuller pernah menceritakan sebuah rahasia pada saya bahwa dia telah berjanji pada istrinya Annie untuk meninggal lebih dahulu, sehingga dia mempersiapkan sebuah penyambutan untuk istrinya di surga - sebagai ganti Annie yang sudah setia melayaninya selama hidup di dunia. Saya menganggap pernyataan itu sebagai sebuah harapan bukan sebuah komitmen. Itu menunjukkan betapa saya meremehkannya.
Singkatnya, setelah Buck presentasi di New York, dia segera menuju rumah sakit di Los Angeles karena isterinya jatuh koma. Dokter merasa bahwa masih ada kesempatan karena Annie cepat mendapat penanganan yang tepat di rumah sakit.
Buck segera mencari penerbangan pertama yang bisa dia temukan dari kota New York. Saat tiba di Los Angeles, dia segera menuju ke kamar Annie. Buck duduk di samping tempat tidurnya, dan menutup matanya.
Dan Buck meninggal dengan tenang.
Kekuatan untuk memilih kehidupan adalah sesuatu yang diperlihatkan oleh Buck. Bahkan dia memiliki kekuatan untuk meninggal pada saatnya, dengan tenang, dengan tangan terbuka kepada alam semesta yang dia layani. Sebuah kesederhanaan untuk berani melangkah ke depan
Tak lama kemudian, Annie menyusulnya meninggal dengan tenang. Buck telah megang janjinya. Dia sedang menunggu Annie di surga.
Ketika saya membaca kisah diatas saya sangat terharu dengan kekuatan komitmen antara Buck dengan istrinya Annie…..
Saya sempat berpikir apakah saya mampu mempunyai kekuatan seperti yang dilakukan oleh Buck?
Kita hanya bisa punya kekuatan jika kita hanya bersandar kepada Tuhan Yesus. Terutama dalam membangun hubungan dengan pasangan hidup kita.
Semoga dengan cerita ini bisa membuat setiap dari kita mereview kembali komitmen kita dengan pasangan hidup kita.
Ada penelitian di sebuah falkutas:
Ada satu ulat yang mau menjadi kepompong, pada waktu dia mulai keluar
dari kepompongnya untuk menjadi kupu - kupu, proses ini dipermudah..
Pada waktu itu dipermudah, dibukain kepompongnya dan akibatnya apa
yang terjadi? Kupu - kupu tadi jatuh dan dia mati, dan dia tidak bisa
terbang.
Ternyata di design oleh alam semesta, pada waktu dia mau keluar dari
kepompongnya, dia merasa tidak nyaman.
Dia bersusah payah ketika dia begerak dan mendorong seperti ketidak
nyamanan tadi, ternyata itu membuat aliran-aliran istilahnya zat-zat
yang penting di dalam sayapnya sehingga sayap dari kupu-kupu tadi siap
dan kuat untuk digerakkan sehingga kupu-kupunya bisa terbang.
Dan ternyata kalau dipermudah hasilnya ternyata malah membuat
kupu-kupu tadi mati.
Setiap penghancuran, itu adalah proses dari satu penciptaan.
Ketidaknyamanan itu adalah awal dari kita tumbuh menjadi lebih baik.
Ketika orang mau tumbuh, ototnya menjadi lebih besar, ketika dia
latihan angkat Barbel dari 1 (satu) sampai 10 (sepuluh), itu sudah
paling berat.
Ototnya pada hitungan keberapa akan tumbuh? Bukan, bukan kesepuluh,
tapi keduabelas, ketigabelas atau bahkan keenambelas baru dia tumbuh.
Ketika ia keluar dari zona nyaman dan menuju kesebelas, duabelas
dengan sekuat tenaga, yang terjadi adalah ototnya bertambah besar.
Nah ketika kita mengalami satu tantangan didalam hidup ini selalu
pegang prinsip ini: Ketika saya merasa tidak nyaman berarti saya akan
lebih baik karena hal ini.
Tidak Nyaman Berarti Tumbuh.
sumber: Tung Desem Waringin
My friend, artikel diatas sungguh bagus dan saya terinspirasi untuk mempostingnya disini.
1 hal yang saya dapatkan ketika membacanya, bahwa:
Tuhan menggunakan proses untuk membuat kita bertumbuh.
Cara paling efektif agar kita bertumbuh….ya… hehe…minta Tuhan kasih problem. (oops… I’m sorry but…that’s true). Problem adalah guru terbaik dalam “sekolah kehidupan” tetapi kadang dia bukanlah guru “terfavorit” karena banyak orang yang tidak suka kepadanya.
Seperti kupu-kupu diatas, melalui pergumulannya dari ulat ke kepompong menjadi kupu, dia berjuang dan ketika dia setia melaluinya, ia menjadi kupu-kupu yang cantik !!
Sama seperti kita kalau kita setia bergumul masalah dan setia terhadap proses yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita, maka kita akan menjadi lebih kuat, lebih indah, dan kita BERTUMBUH !!
Pertanyaan ini seringkali muncul benak kita kalo lagi jatuh cinta terutama kalau lagi jatuh cintanya kepada teman kita yang tidak seiman.
Boleh ngak sih punya pasangan yang tidak seiman ? Beberapa remaja di gereja saya seringkali bertanya hal tersebut. Saya kemudian balik bertanya kepada mereka, bahwa masalahnya bukan boleh atau tidaknya, tetapi “BISA” atau “TIDAK BISA”, lho kok begitu, apa maksudnya ?
Saya kasih ilustrasi, kalau kita mencampur air dan minyak goreng. (hehe cobain aja deh..supaya postingan ini lebih nge-rhema)
Kedua zat tersebut tidak akan pernah bersatu. Why ? Guru SMA saya bilang, karena keduanya memiliki berat jenis yang berbeda.
Anda bisa kocok-kocok 2 zat tersebut (coba taruh di botol trus diguncang-guncang) sepertinya mereka akan bersatu, tetapi lama-kelamaan akan memisah lagi.
Sama seperti hal nya pasangan yang tidak seiman, mereka bagaikan air dan minyak, mereka tidak akan bisa pernah bersatu.
Saya kutip ayat di
2 Kor 6:14
“Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?”
Versi NIV 2 Cor 6:14
“Do not be yoked together with unbelievers. For what do righteousness and wickedness have in common? Or what fellowship can light have with darkness?”
2 versi alkitab diatas berkata bahwa gelap tidak dapat bersatu dengan terang.
Trus rekan remaja yang tadi berkata lagi, “Tapi kan saya akan membawa dia kepada pertobatan ?”
Hehe, my friend, Alkitab tidak pernah mengajarkan kita untuk membawa orang percaya Yesus, dengan cara menjadikan pacar pasangan dahulu.
Mengapa kita harus “terbebani” dengan pasangan kita, gara-gara dia bukanlah orang percaya ? lihat kutipan versi NIV — “Do not be yoked together with unbelievers.” –
Kalau anda pernah lihat 2 sapi yang lagi membajak sawah, keduanya akan dipasangi semacam pasung di lehernya untuk menarik bajak. 1 sapi lebih senior, dan 1 lagi junior, sapi junior akan belajar dari sapi senior. Pasung di leher itulah yang disebut “YOKE” (KUK).
Kalau kita memiliki pasangan, (well… kalau pada akhirnya married nih.. ceritanya) maka pasangan tersebut diibaratkan seperti 2 sapi senior-junior yang dipasang kuk. Sapi Senior diibaratkan believers, sedangkan Sapi Junior diibaratkan non-believers.
Keluarga ini akan mengalami banyak sekali beban dan ketidak sepadanan dalam hidup rumah tangga mereka. Believe me …. I ‘ve seen so many families yang beda keyakinan, hidupnya seperti ini.
Keluarga yang dibangun tidak akan bisa memuliakan Tuhan, karena “beban” ketidak sepadanan, yang mereka miliki begitu besar.
My friend, take my advice…. temukan sapi yang senior, jangan yang junior :) Temukan pasangan yang yang sepadan, yang seiman.
Anda dapat mengirimkan pertanyaan seputar Biro Jodoh Kristen dan apa saja yang berhubungan dengannya disini.
Caranya mudah sekali, cukup dengan mengisi form komentar dibawah.
Selamat datang di Blog BJK,
Saya berharap blog ini dapat menjadi berkat bagi semua member BJK, maupun bagi pengunjung yang mampir ke blog ini. Blog ini akan berisi artikel mengenai pasangan hidup, pernikahan, dan kekristenan.